Saya Juga Percaya Yesus itu Juru Selamat

  • Whatsapp
Saya Juga Percaya Yesus itu Juru Selamat

Oleh: Khairun Fajri Arief

Saya baca sebuah berita online tentang desas desus bahwa Agnes Monica itu kemungkinan sudah mualaf, yang kemudian dia menjawab dengan cerdas:” I still believe Jesus Is My Saviour”. Cakeep!

Isu soal Agnes ini, sebetulnya adalah satu fenomena gunung es saja dari relasi kisah kasih lintas agama dan tentu saja meramaikan “Bursa Transfer antar club” dalam beberapa tahun terakhir. Apakah Agnes Monica itu kemudian jadi mualaf atau enggak, sebetulnya itu hak personalnya 100%.

Hanya saja, kalau dia pacaran sama muslim dan berniat untuk menikah toh sebetulnya dia enggak harus pusing amat untuk pindah agama kan? Buat laki-laki Muslim, perempuan Kristen itu memang halal untuk dinikahi. Jelas kebolehannya itu berdasarkan Quran. Tapi kalaupun dia mau masuk Islam juga, ya selamat datang.

Yang menarik buat saya, sebetulnya adalah cara dia menjawab desas desus ini dengan sebuah kalimat yang sebetulnya dalam Quran bisa disebut “Titik Temu/Kalimatun Sawa”. Cara dia menjawab itu, bahkan sebetulnya masuk kategori jawaban cerdas lho. Karena kalaupun dia beneran masuk Islam juga, ya enggak salah kalau dia bilang bahwa Yesus itu adalah juru selamatnya. Kan bener emang di Islam juga kita percaya kalo Yesus itu juru selamat kan?

Sejak era nabi-nabi sejak Adam, Idris, Nuh, hingga Isa Binti Maryam dan Rasulullah Muhammad, mereka semua adalah Juru Selamat kita; “Laa nufarriqu bayna ahadin min rusulihi..” Kami tidak membeda-bedakan salah satupun diantara para Rasul. Sangat eksplisit.

Baca Juga :   Opini: Menulis, Konsultasi, Mengirim Tulisan dan “Reject”

Seorang Muslim tidak salah sama sekali kalau mengatakan:”Asyhadu alla ilaaha illallah wa asyhadu anna Isa Rasulullah” atau menyebut Isa itu “Ruhullah” atau “Kalimatullah”. Ya memang begitu. Kita tidak menyangkal Yesus sebagai juru selamat atau Bunda Maria sebagai wanita suci. Kita hanya menolak atribusi Ketuhanan dalam person mereka, bukan menolak sama sekali hak-hak mereka, martabat, serta ketinggian derajat mereka.

Dalam theologi Islam, manusia lah yang mengatribusikan “Sifat-sifat Tuhan” dalam segala perilaku, baik sifatNya yang “Jalal” maupun sifatNya yang “Jamal”. Dalam Theologi Kristen, Tuhanlah yang menjadi daging ke muka bumi. Itu saja perbedaannya.

Selebihnya adalah rincian Sejarah bahkan ritus yang bisa jadi sangat mirip satu sama lain. Kalau Islam kita kenal Shalat, orang Kristen Ortodox juga shalat 3, 5 atau 7 waktu. Kalau kita puasa, mereka juga puasa, kalau kita zakat ya mereka juga zakat, kalau kita harus ziarah ke Baitullah mereka juga ziarah ke Bait Allah.

Maka jadi mengherankan kalau misalnya ada orang yang jadi muallaf dan kemudian bersamaan dengan itu dia jadi seolah putus hubungan total dengan agamanya terdahulu. Di dalam Islam dia tidak akan kehilangan hak sedikitpun untuk memuliakan Yesus dan Bunda Maria. Dia bahkan berkesempatan untuk menyampaikan cintanya dan puja puji kepada Yesus dan Bunda Maria lebih sering setiap hari. 5 kali sehari sehabis shalat dia bisa “bercengkerama” dengan mereka setelah berdzikir rutin dan berdoa kepada Allah. Bisa dengan permohonan minta doakan yang disampaikan secara personal (Tawassul) atau lewat ucapan salam sederhana yang romantis; ” Ya Sayyidah Maryam, Salam” atau “Ya Sayyidna Isa Binti Maryam, Salam”.

Baca Juga :   Opini: Angin Ribut Pemuda Hijrah Wahabi

Bagaimanapun, hubungan kita dengan Kristen sebetulnya tidak sejauh yang kita duga. Antara Islam dengan Kristen itu terpisahkan ngarai yang landai dan bisa dijelajahi, bukan jurang yang sebegitu dalamnya. Allah ingin kita jadi umat yang satu dalam kemanusiaan dan dalam keluarga besar nabi-nabi yang tak terpisahkan sejak Adam hingga Muhammad.

Jadi siapapun perempuan Kristen yang mau menikahi lelaki Islam dan belum bersedia menjadi Mukminah, ya silahkan saja. Hanya saja, saran saya, marilah kita sama-sama menyembah Allah yang Esa dan menghargai seluruh kekeluargaan para Nabi dan tidak membedakan salah satupun diantara para Rasul itu. Kalaupun masih mau tetap Kristen, kalau menurut Quran justru dikatakan bahwa dia itu belumlah dianggap beragama sedikitpun kecuali dia kembali kepada Injil. Kenapa? Ya itu ;” ..karena di dalamnya ada cahaya yang menerangi”.

Jadi, tak perlu ada tengkar antara kami dengan kalian, Tuhan kita itu satu dan kepadaNya kita akan kembali untuk mempertanggung jawabkan pilihan-pilihan..

Pos terkait