Paradigma Baru dalam Menghadapi Covid-19

  • Whatsapp
Paradigma Baru dalam Menghadapi Covid-19

Oleh: Mirza Mahbub Wijaya, Dosen Falsafah Kesatuan Ilmu, UIN Walisongo Semarang

Pandemi sudah berlangsung lebih dari satu tahun. Nyatanya, kita masih berada di titik yang sama dengan titik awal pandemi ini mulai. Kita masih kebingungan bagaimana menekan laju kurva penderita Covid yang semakin naik. Namun, di saat yang sama, kita juga tetap berkeliaran, berkerumun, menyalahkan, mendaku diri paling benar. Bijakkah?

Tahun lalu, menjadi tahun yang gelap untuk dunia. Banyak di antara kita yang meninggal, kehilangan mata pencaharian, kesulitan mencari pekerjaan, roda perekonomian lumpuh, tempat ibadah ditutup, saham anjlok. Padahal dunia sudah pernah mengalami pandemi, tapi mengapa kita tetap kewalahan?

Hingga kini, bahkan kita masih bersembunyi dibalik rasa takut. Rasa takut tidak bisa makan, takut sang anak kelaparan, takut cicilan tidak terbayar, takut rumah disita. Hal-hal tersebut yang akhirnya memaksa kita untuk keluar. Entah mengikuti protokol kesehatan atau tidak, untuk keluar rumah mencari nafkah. Berangkat ke pabrik tanpa jaminan kesehatan yang layak, mengendarai motor sebagai ojek online, mengenakan baju hazmat setiap hari. Bahkan, banyak juga yang telah terpapar covid, namun tetap bekerja, apa pun alasannya.

Bukan rahasia umum lagi, bagaimana kejamnya dunia kerja menghantui setiap kita yang menjadi buruh. Apalagi untuk tempat yang tidak menyediakan jaminan atau kelayakan apa pun. Tidak bekerja, maka tidak mendapat uang. Jika sang pekerja terserang covid hingga bahkan meninggal, Si Bos bisa dengan mudah mencari sumber daya manusia lain. Ingat, masih banyak buruh yang rela mendapatkan upah murah karena desakan ekonomi. Tapi, bagaimana dengan keluarga pekerja tersebut? Ia merupakan anak/ayah/ibu/saudara bagi keluarganya, bukan hanya sekadar angka statistik.

Bagaimana dengan dunia pendidikan? Tengoklah adik-adik kita. Anak dengan usia 3 – 5 tahun mendekam di rumah. Belajar melalui aplikasi semacam Zoom sehari-hari. Tanpa interaksi langsung dengan sang guru, tanpa tatap muka dengan teman-teman. Lihatlah pula para siswa dan mahasiswa. Para remaja hingga dewasa tersebut, tentu dengan mudah bersandiwara di depan layar komputer sembari bermain melalui ponsel. Para pengajar? Tentu lelah menerangkan tanpa ada imbal balik yang berarti. Namun, dengan kondisi seperti ini, siapa yang tidak lelah?

Pemerintah sudah mulai menyuntikkan vaksin Covid ke masyarakat umum. Tapi bagaimana dengan kasus vaksin booster dosis ke-3 yang malah diberikan kepada yang biasa disebut influencer? Sedangkan masih banyak rakyat biasa yang belum mendapat vaksin dosis kedua. Bahkan, persebaran vaksin dosis pertama saja masih entah sampai mana.

Belum lagi, perihal koruptor bansos yang malah meminta dibebaskan dari seluruh dakwaan. Bayangkan, apakah masuk akal untuk Juliari bahkan keringanan hukuman, padahal Ia telah mengambil jatah makan siang bagi tiap penduduk yang berhak menerima? Bahkan, mereka yang berhak menerima pun tidak pasti menerima bansos tersebut.

Ditambah pula dengan banyak politisi yang malah mulai berkampanye untuk pesta politik tahun 2024. Acara yang bahkan masih 3 tahun lamanya baru akan diselenggarakan. Berapa banyak uang yang bisa diberikan kepada yang membutuhkan, dengan tidak membuat baliho-baliho tanpa makna tersebut.

Seluruh kejadian negatif tersebut, tak ayal memang membuat kepala pusing. Isi pikiran tambah ruwet. Jika kita tak pandai mengatur emosi, kita akan berakhir menjadi netizen maha benar di media sosial. Marah-marah di tiap kolom komentar artis yang liburan. Baikkah para artis yang liburan di tengah pandemi? Tentu tidak. Namun, bijakkah kita untuk marah-marah tanpa arti? Bagi saya, tidak.

Baca Juga :   Soal Etnik Arab dalam Sumber Pra-Islam

Lalu, apa yang seharusnya dilakukan? Sudah tidak ada hal yang masuk akal lagi, bukan?

Hanya karena setiap orang menjadi gila, bukan berarti kita harus menjadi salah satunya. Covid masih ada dan akan terus bermutasi, entah anda capek di rumah atau tidak. Pandemi masih akan berlangsung dan akan terus berlangsung, entah anda memakai masker atau tidak. Ya, kita harus terus berikhtiar.

Apa lagi?

Hanya itu.

Kita tetap harus berikhtiar menggunakan masker dobel, walaupun pengap, ketika tetap diwajibkan bekerja padahal perusahaan tidak bergerak di industri esensial. Kita tetap harus berikhtiar membawa alat makan pribadi ketika menyambangi restoran. Kita tetap harus berikhtiar menggunakan hand sanitizer setelah memegang setiap benda di tempat umum.

Namun, bukankah hal tersebut tidak sepenuhnya buruk? Pandemi pada akhirnya mengubah setiap tatanan hidup kita. Dari semula acuh terhadap kebersihan, kini setiap orang mengubah gaya hidupnya. Bayangkan, berapa banyak dari kita yang dulu selalu membasuh tangan setiap memegang benda kotor? Atau bahkan, apakah dulu kita selalu mandi setelah bepergian?

Jalanan juga relatif lebih lenggang karena banyak perusahaan maupun instansi pemerintah yang menerapkan sistem kerja dari rumah. Kadar CO2 tentu saja menurun. Dan, ternyata, bekerja dari rumah juga menghasilkan tingkat produktivitas yang sama tingginya daripada bekerja langsung dari kantor. Tentu ini hal baik.

Memang tidak bisa dipungkiri bahwa bisnis UMKM, restoran, hotel dan industri pariwisata paling banyak menerima dampak pelaksanaan pembatasan wilayah. Padahal, industri pariwisata yang menghidupi daerah-daerah di Indonesia. Masyarakat sekitar tempat wisata membuka penginapan, menjual oleh-oleh, restoran menjual makanan khas. Ditambah, tahun lalu merupakan masa jaya warung kopi yang kebanyakan didominasi oleh anak muda. Ini tentu angin segar bagi industri makanan, karena pasar baru terbuka lebar. Apa daya, serangan pandemi ini benar-benar membuat kita berpikir keras, memutar akal sedemikian rupa agar hanya dapat bertahan. Maka, menjamurlah pesanan siap antar. Pengalih fungsian hotel menjadi tempat isolasi mandiri. Produk UMKM merambah pasar daring dan potensi penjualan ke mancanegara. Jadi, mungkin kita hanya perlu mengubah sudut pandang kita terhadap suatu masalah, agar kita bisa melihat solusi dari hal tersebut.

Sebagaimana jika kita melihat problematika hidup yang lain, kita harus memutar otak, bukan, untuk mendapatkan jawaban. Tidak ada hal positif lain yang bisa kita dapatkan apabila hanya duduk termenung sambil mengutuk keadaan.

“Dunia ini tidak adil!”

“Covid kapan segera selesai? Saya Lelah!”

Ya, ungkapan tersebut memang benar. Bahkan, presiden yang didampingi oleh staff saja kewalahan, apalagi kita para rakyat biasa? Tapi, untuk apa terus mengeluh? Covid tidak akan selesai hanya karena semua orang mengeluh. Pada akhirnya, kita harus fokus pada apa yang kita bisa. Bukan sebaliknya.

Jika kamu seorang tukang becak, maka lakukanlah pekerjaanmu sembari tetap mematuhi protokol kesehatan. Selalu gunakan masker dobel, terlebih karena interaksi dengan orang banyak, dan selalu jagalah kebersihan. Bukan malah menyebar berita bohong tentang Covid.

Jika kamu seorang guru, maka susunlah metode pembelajaran yang mengasyikkan. Suruhlah siswamu agar tetap menengok dan tidak buta akan keadaan sekitar. Merekalah masa depan kita. Merekalah yang kelak akan mengambil keputusan penting untuk negara.

Jika kamu seorang siswa, dengar dan seraplah ilmu yang diberikan oleh gurumu secara saksama. Carilah ilmu selain dari sekolah. Pergilah ke perpustakaan. Lihatlah lingkungan di mana kamu dibesarkan. Buatlah gerakan, sebarkan informasi penanganan Covid dan tata cara melaksanakan isolasi mandiri untuk warga sekitar. Jangan hanya termenung sembari membuka sosial media yang isinya hanya itu-itu saja.

Baca Juga :   Mengapa Akademisi Mendekati Kekuasaan?

Jika kamu seorang pejabat negara, maka laksanakanlah amanah yang telah diberikan rakyat kepadamu. Buatlah kebijakan yang adil bagi masyarakat, kaya maupun miskin. Jangan malah memamerkan beraneka pajangan seharga milyaran di ruanganmu. Apalagi korupsi.

Jika kamu seorang peneliti, maka fokuslah memperdalam ilmu tentang apa yang kamu teliti. Buatlah terobosan yang bisa memberi dampak terhadap minimal diri sendiri dan keluarga, akan lebih baik lagi jika untuk masyarakat banyak. Berkaitan dengan pandemi, maka akan lebih baik untuk menghubungkan ilmu yang kamu terima dengan bagaimana memperbaiki keadaan yang carut-marut ini. Sebagai contoh, jika kamu seorang arsitek, maka rancanglah bangunan atau rumah yang memiliki kapasitas untuk menampung pasien isolasi mandiri. Lengkapilah kamar tersebut dengan kamar mandi dan ventilasi yang baik. Agar kelak, jika pandemi datang kembali, kita sudah siap. Namun, tidaklah perlu bagimu untuk berceramah tentang konspirasi microchip dalam vaksin. Mengapa? Karena kadar ilmu arsitekmu tidak cukup kuat untuk memberikan pendapat dalam ranah tersebut.

Itu pula-lah yang saya perbuat. Pilihan terbijak bagi saya yang tidak memangku kepentingan untuk membuat kebijakan apa pun. Sebagai peneliti, mahasiswa, dan dosen, apa yang saya lakukan tentu memiliki tanggung jawab yang besar dan sedikit banyak merepresentasikan dunia akademis di mata masyarakat.

Tentu, saya tidak menguasai seluruh ilmu yang ada di dunia. Namun, saya bisa mengambil pilihan ilmu yang benar-benar saya pahami, agar tidak menimbulkan kesalahpahaman dalam masyarakat. Seperti, saya meneliti bagaimana teladan Rasulullah ketika terjadi karantina wilayah pada zaman dahulu. Bahkan, Rasulullah pun menyeru untuk melaksanakan salat di rumah masing-masing daripada di masjid, dengan keadaan yang hampir sama. Ini terbukti berhasil dan didengarkan, daripada memberi hanya menyeru,

“Hey jangan salat di masjid karena Covid!”

Bagi beberapa orang, ajakan tersebut akan mengundang emosi karena ada anggapan bahwa umat Islam dizalimi dan sejenisnya. Namun, jika diberi contoh dengan apa yang Rasulullah lakukan, seruan ini akan bisa lebih diterima. Padahal, tujuannya sama, bukan? Inilah pentingnya bergerak dalam koridor keilmuan yang sesuai.

Sebagai akademisi, penting juga untuk memberi edukasi ke masyarakat mengenai Covid. Secara tidak langsung, saya bertanggung jawab atas apa yang saya terima dan saya sebarkan. Himbauan penggunaan masker dobel, mengurasi aktivitas di luar rumah, menjaga pola hidup bersih dan sehat tentu harus selalu dilakukan. Paling tidak ke lingkungan sekitar. Pengecekan ulang terhadap suatu berita sebelum membagikan berita tersebut juga merupakan poin penting dalam berinternet. Kita semua tahu, bagaimana internet menjadi sumber informasi dan hoax dalam waktu yang bersamaan. Jangan sampai, kita menjadi salah satu penyebar hoax.

Lalu, sampai kapan ikhtiar ini dilakukan?

Tentu selamanya. Kita berikhtiar agar pandemi ini lekas selesai. Setelah itu, kita berikhtiar agar tidak ada pandemi seperti ini yang datang, sembari ekonomi keluarga dan Indonesia perlahan pulih. Kita juga terus berikhtiar agar diberi kesehatan juga ilmu yang bermanfaat. Kita akan terus berikhtiar agar dunia menjadi tempat yang layak bagi anak cucu kita untuk hidup. Bukankah hidup ialah ikhtiar yang terus-menerus?

Pos terkait