Mencari Guru Panutan Siswa

  • Whatsapp
Kang Noval

Guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, nampaknya perlu dirumuskan ulang. Sosok guru yang hidup serbasederhana dan cenderung berkekurangan dari segi ekonomi, menjadi hal yang justru semakin jarang kita jumpai dewasa ini. Kecuali pada guru yang masih berstatus honorer.

Hal ini tentu kabar yang cukup menggembirakan, karena menjadi sosok guru sangatlah berat. Seorang guru, sebagaimana dirumuskan Negara dalam pasal 10 Undang-undang no.14/2005 tentang Guru dan Dosen, haruslah memiliki kompetisi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional.

Sebuah citra dari sosok yang dapat dianggap paripurna. Karena, cerdas secara akademik saja ternyata tidak cukup untuk memenuhi kapasitas seorang guru. Cerdas secara sosial, memiliki responsibilitas, kapabilitas, dan profesionalitas yang memadai adalah syarat lain yang harus dipenuhi. Menjadi anggota parlemen saja sepertinya tidak akan seberat itu.

Repotnya lagi, jenjang birokrasi dan administrasi mengakibatkan perkembangan profesionalisme guru mengarah pada hal lain. Sebagian dari mereka lebih banyak bergelut dengan persoalan teknis dan legal formal portofolio yang harus dikumpulkan untuk mendapatkan predikat “profesional” melalui program sertifikasi guru.

Pada saat yang sama, pelatihan guru lebih banyak berkaitan dengan kemampuan pedagogik semata, seperti kompetensi untuk menyusun rencana pengajaran, metode mengajar, dan mengevaluasi. Sedangkan kompetensi kepribadian dan sosial yang berkaitan erat dengan penenaman nilai-nilai hidup bagi siswa sangat sedikit dibahas.

Kondisi demikian tentu sangat menggelisahkan bagi siapapun yang peduli dengan kualitas guru. Perannya dalam menanamkan nilai-nilai kepada siswa dapat tergerus oleh kesibukan yang tidak substantif. Padahal, berdasarkan teori kognitif sosial Albert Bandura, guru merupakan model ideal bagi para siswa. (Sigit Setyawan, 2013)

Mendidik Karakter Siswa

Guru sebagai model dalam konteks teori kognitif sosial dijelaskan dalam konsep modeling, siswa sebagai pihak yang mengamati dan terpengaruh dalam konteks ini dianggap sebagai human agency, dan proses terjadinya pengaruh itu telah dipolakan dalam proses pembelajaran observasional.

Baca Juga :   Terobosan Akademik Australia-Indonesia

Teori kognitif sosial berangkat dari pembelajaran observasional. Manusia belajar dari interaksinya dengan manusia lain. Seorang anak akan belajar dari orang dewasa dengan cara mengamati tindakan orang dewasa. Dari pengamatan, seorang anak dapat membuat imitasi atas tindakan tersebut. Observasional biasanya dipakai untuk memostulatkan tendensi natural manusia untuk meniru apa yang dilakukan orang lain.

Bagi Bandura, pengamatan yang dilakukan oleh seseorang terhadap model merupakan proses belajar observasional. Seseorang dapat mengimitasi perilaku tetapi dapat pula melakukan sesuatu yang bertolak belakang dengan yang diamati. Misalnya, ada orang mengendarai mobil kemudian menabrak tiang, orang lain yang mengamati akan menghindari tiang tersebut.

Hal demikian dikarenakan tidak semua respons dari belajar observasional berupa tindakan atau perilaku. Aktivitas belajar merupakan proses pemerolehan pengetahuan melalui pemrosesan secara kognitif. Sehingga manusia mampu membuat simbol-simbol, merepresentasikan kejadian, menganalisis pengalaman sadarnya, dan melakukan tindakan yang penuh pertimbangan.

Peran guru dalam mendidik karakter siswa sangat penting. Keteladanan dalam sikap disiplin merupakan temuan paling kuat dalam hal ini. Memberikan nasihat kepada siswa juga ternyata merupakan salah satu cara efektif dalam mempengaruhi siswa. Namun, sang guru tentu harus memberi contoh yang sejalan dengan apa yang disampaikannya.

Misalnya, jika seorang guru menasehati murid agar disiplin masuk kelas, sedangkan guru sendiri sering telat bahkan membolos dalam mengajar, maka dapat dipastikan nasihat yang diberikan kepada para siswa kemungkinan besar akan menjadi sia-sia belaka. Tak kalah penting adalah pendekatan individual dengan memahami kebutuhan tiap siswa sangat efektif mempengaruhi siswa dengan tipe pendiam atau pasif di kelas.

Berjam-jam waktu yang dihabiskan para siswa di kelas setiap harinya, menjadikan guru sosok model dalam kelas. Apa yang dilihat siswa kemudian diabstraksikan ke dalam pikiran mereka. Modeling merupakan salah satu hal paling kuat dalam mentransfer nilai-nilai, sikap, pola pikir dan perilaku.

Baca Juga :   Sekolah Bahtsul Masail; Genealogi, Metodologi, dan Kontekstualisasi

Digugu dan Ditiru

Keteladanan menjadi faktor utama dalam mendidik remaja/siswa, tanpa keteladanan, ajaran atau didikan akan dicemooh dan dianggap munafik. Sayangnya, tidak sedikit guru cenderung tidak menyadari bahwa mereka memengaruhi siswa. Teladan yang buruk akan membuat siswa menangkap hal-hal yang buruk pula, sebaliknya teladan yang baik akan membuat siswa menangkap nilai positif dari diri sang guru.

Apa pun mata pelajaran yang diajar oleh seorang guru, nilai-nilai yang dihayati akan memancar dari diri guru. Di Indonesia, apa yang disampaikan Bandura dengan teori modelling barangkali senapas dengan akronim yang  populer dari kata guru itu sendiri; yaitu untuk digugu dan ditiru.

Dengan kata lain, tugas seorang guru bukan hanya masuk kelas dan menjejali para murid dengan teori-teori dengan tujuan sekedar mengejar target kurikulum, atau menginstall isi kepala mereka dengan transfer pengetahuan. Lebih dari itu, guru juga seharusnya menjadi sosok yang patut diteladani, memberikan contoh positif kepada para muridnya sehingga kata-kata akan senantiasa dipatuhi.

Apresiasi yang diberikan, baik oleh murid maupun pemerintah melalui peningkatan gaji dan sertifikasi, kepada para guru seharusnya mampu semakin memacu para penyemai tunas bangsa ini untuk semakin meningkatkan kualitas mereka.

Sehingga figur guru, bukan semata sebagai sosok yang datang ke kelas, duduk,  bicara, dan menunggu tanggal muda. Sebaliknya, profesi guru merupakan profesi yang mulia, bahkan mungkin paling mulia, karena melalui tangan merekalah konstruksi sebuah generasi masa depan ditentukan. Berbanggalah para guru.

Oleh : Kang Noval

Pos terkait