Memperdengarkan Musik vs Menutup Telinga dari Musik

  • Whatsapp
Memperdengarkan Musik vs Menutup Telinga dari Musik

Oleh: Shuniyya Ruhama, Pengajar Ponpes Tahfidzul Quran Al Istiqomah Weleri Kendal

Dalam beberapa hari terakhir banyak pertanyaan via inbox FB, maupun melalui WA yang bermunculan seputar santri yang konon sedang dalam proses menghafal Al Quran yang menutup telinga ketika diperdengarkan musik saat diadakan vaksinasi.

Banyak sekali grup di medsos yang sudah membahasnya juga. Tentu dari sudut pandangnya masing-masing. Banyak yang mendukung, banyak pula yang terkesan menyalahkan.

Yang menarik lagi, banyak juga testimoni dari para penghafal Quran yang juga ikut angkat suara. Menceritakan bagaimana situasi yang dialami ketika menghafalkan Kitab Suci ini.

Namun, ada satu yang tampak terlewatkan dari berbagai sudut pandang tersebut. Yakni sumber konfliknya. Penulis sangat memaklumi pro-kontra seputar perbedaan pendapat. Apalagi masing-masing memiliki argumennya dan sama-sama masuk akal. Adapun yang mencaci maki dan menghakimi anggap saja pemanis di dunia medsos.

Dalam dunia medsos kita mengenal idiom guyonan: “Keawamanmu sama dengan keahlianku. Kebodohanku sama dengan kepandaianmu”… Jadi abaikan saja para komentator yang kelupaan menggunakan adab dalam memilih perbendaharaan kata untuk mengekspresikan pendapat dan perasaannya itu.

Kembali pada video yang beredar. Sebenarnya, berdebatan pengharaman dan perbolehan mendengarkan maupun memainkan musik sudah selesai ratusan tahun silam. Sehingga tidak perlu diperdebatkan lagi. Cukup mengikuti relnya masing-masing. Tanpa harus memaksakan pendapatnya kepada orang lain.

Baca Juga :   Opini: Kekuatan Kata-Kata

Kalau kita lihat dan dengar video tersebut, yang jadi masalah ialah narasi dari pembuat videonya. Narasi yang kemudian tersebar dan membuat permasalah tersebut timbul.

Jadi, bukan terletak pada para santri yang menutup telinga ketika mendengarkan musik. Hal ini tidak ada kaitan dengan radikalisme. Tokh mereka tidak memaksakan apapun kepada Panitia. Dan juga telinga yang ditutup adalah telinga mereka sendiri-sendiri, bukan telinga orang lain.

Demikian pula Panitia penyelenggara. Itu hak mereka untuk membuat suasana menjadi lebih segar. Situasi yang “kosong” diisi dengan alunan musik. Tidak ada aturan tertulis ataupun tidak tertulis yang dilanggar.

Kejadian biasa saja inipun sebenarnya tidak perlu viral, jika ada komunikasi yang baik antara pihak santri dan panitia. Dalam hal ini, panitia sebagai penyelenggara yang tidak hanya melayani komunitas tertentu juga tidak bisa disalahkan.

Justru sebaiknya dari pihak pondok hendaknya ada yang mengkomunikasikan kepada panitia untuk meminta kesediaan agar mematikan musik selama proses vaksinasi kepada para santri mereka.

Dan setelah rombongan santri selesai divaksin, panitia bisa menghidupkan musik kembali. Semua akan baik-baik saja. Tidak menimbulkan berbagai tafsir sehingga mengundang orang-orang tidak paham dan tidak berkompeten untuk ikut membuat berisik suasana.

Memang jika demikian tidak akan viral dan tidak tampak gagah. Sebagaimana ketika penulis menginap di suatu tempat, ternyata di hotel tersebut ada kecoa. Spontan penulis memukul kecoa tersebut lalu memanggil petugas dan manager hotel.

Baca Juga :   Opini: Sirine Ambulan di Negara Maju

Kepada managernya, cukup dikatakan supaya tidak memecat petugas dan bisa menjalankan quality control. Dan kepada petugasnya kita minta supaya bekerja dengan lebih baik lagi supaya kejadian semacam ini tidak terulang.

Tentu hal ini tidak tampak gagah dan tidak bisa viral. Yang viral itu, kalau kita shooting kecoa-nya sambil kita beri narasi hiperbolik yang menunjukkan kejijikan dan mencela secara membabi buta atas keburukan fasilitas hotel tersebut.

Tidak perlu menegur siapapun tapi langsung diupload ke medsos sehingga reputasi hotel tersebut hancur.

Keren sekali, bukan?

Demikianlah peradaban kita saat ini. Mari kita jadikan pembelajaran bersama untuk tidak mudah memviralkan sesuatu yang sebenarnya sangat tidak penting, apalagi bisa merusak persatuan Bangsa Indonesia.

Juga, mari kita jaga agar tidak mudah share dan komen atas sesuatu di luar kapasitas kita yang sesungguhnya. Karena setiap diksi dalam komentar sesungguhnya mencerminkan siapa diri kita sejatinya.

Jadi pada akhirnya bukan masalah penampakan yang “biasa saja” itu tapi justru kembali kepada kualitas adab kita sendiri.

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq”, demikian sabda Kanjeng Nabi Muhammad SAW yang sangat terkenal. Mari kita lihat komentar kita masing-masing. Akhlaq siapa yang kita ikuti?

Pos terkait