Jika Universitas Saja Roboh, Bagaimana dengan PTKIS ?

  • Whatsapp
Jika Universitas Saja Roboh, Bagaimana dengan PTKIS ?

Oleh: Sari Rahayu, Mahasiswa Doktoral Ilmu Pendidikan UNINUS Bandung, Dosen PTKIS.

Beberapa hari yang lalu, saya membaca tulisan Aidil Aulya berjudul Robohnya Universitas Kami. Sebuah tulisan berisi kegelisahan penulisnya atas kondisi perguruan tinggi di Indonesia (universitas) yang disebutnya hanya memproduksi buruh-buruh pabrik, atau meminjam istilah Karl Marx menciptakan kelas proletar.

Selain menjadi pemasok tenaga kerja, menurut Aidil, universitas juga kemudian menjadi corong oligarki sekaligus menjadi lembaga yang menjustifikasi penguasa. Dengan meminjam filosof Prancis Pierre Bourdieu, bagi Aidil insan universitas tidak lagi mencerminkan sebagai Homo academicus yang memproduksi gagasan, tetapi hanya sekadar menjadi peternak bidak korporasi atau kekuasaan.

Kegundahan Aidil menemukan pijakan epistemiknya seiring dengan munculnya karya teranyar Peter Fleming, Dark Academia: How Universities Die. Buku yang sepertinya sangat menginspirasi tulisan Aidil. Entah mana yang lebih dulu muncul, kegelisahan Aidil lalu dipertajam dengan karya Fleming tersebut, atau justru kegundahan itu lahir setelah ia membaca buku berisi sepuluh bab tersebut. Faktanya, melalui tulisan Aidil, sanad bacaan saya atas karya Fleming bersambung, meski tidak keseluruhan saya tuntaskan.

Bagi Fleming, dalam salah satu babnya, ia menyebut fenomena edu-factory sebagai sebuah realitas paling kiwari dari keberadaan universitas. Riset-riset yang dilakukan, serta temuan yang dihasilkan, menurut Flaming, semuanya berorientasi pada cuan sebagai motivasi utama. Bukan lagi nilai-nilai kemanusiaan atau alih-alih memperbaiki kondisi umat manusia. Sadisnya, demikian pula dengan kemunculan program pascasarjana beserta dengan legitimasi keilmuan yang dimilikinya. Semua materi perkuliahan, selalu dilatari dengan prospek kerja masa depan daripada kualitas kurikulum.

Neoliberalisme di bidang pendidikan, nampaknya memang menghadang tepat di depan mata kita. Ia menawarkan beragam fasilitas dan kemapanan secara ekonomi, sehingga menjadikan manusia, meminjam istilah Herbert Mercuse, menjadi dimensi tunggal alias one dimensional man. Manusia yang bertindak dan berpikir dengan motif ekonomi. Inilah yang terjadi di universitas-universitas kita yang dituangkan Aidil dalam tulisannya di atas.

Baca Juga :   OPINI: Sepak Bola dan Sulitnya Orang Indonesia Bekerjasama

Universitas, sebagaimana kita ketahui, merupakan perguruan tinggi yang terdiri dari berbagai macam fakultas yang yang di dalamnya terdapat berbagai bidang keilmuan. Inilah yang membedakan antara universitas dengan institut yang hanya menyelenggarakan pendidikan akademik dan vokasi pada rumpun bidang tertentu. Di bawahnya ada Sekolah Tinggi yang hanya terdiri atas satu jenis ilmu pengetahuan, teknologi, ataupun seni.

Jadi, secara kasta –katakanlah demikian- perguruan tinggi, universitas merupakan kasta tertinggi dengan syarat dan prasyarat penyelenggaraannya yang tidak sederhana. Pertanyaan yang muncul di benak saya; jika Universitas saja terdisrupsi oleh arus neoliberalisme, bagimana dengan nasib Institut apalagi Sekolah Tinggi?

Sungguh sebuah pertanyaan yang menggelisahkan hati sekaligus menyengat kesadaran. Sebagai seorang dosen di Sekolah Tinggi sekaligus mahasiswa Doktoral Ilmu Pendidikan, wacana demikian dapat merusak selera makan, apalagi jika dihubungkan dengan tingkat kesejahteraan para dosen di PTKIS yang masih kalah dari buruh bangunan. Meski tentu bukan itu tujuan kami mengabdi.

Padahal, seorang dosen, di mana pun dia mengabdi, melekat padanya kewajiban untuk melaksanakan Tridarma Perguruan Tinggi; Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian kepada Masyarakat. Tiga unsur itu harus dipenuhi, baik oleh dosen yang mengajar di PT besar, maupun dosen PT yang masih kecil seperti saya. Baik PT Umum maupun yang berada di bawah Kementrian Agama alias Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Swasta (PTKIS).

Realitas sering menyuguhkan kepada kita, bahwa tantangan para dosen di PTKIS, justru lebih berat, setidaknya menurut saya. Mengapa? Pertama, secara manajerial masih banyak PKIS yang belum profesional. Penyelenggaraan Tridarma PT, lebih sering seolah tidak tersistem dan serampangan. penilaian atas kinerja dosen lebih sering hany6a berdasarkan like and dislike sang pimpinan.

Baca Juga :   Robohnya Universitas Kami

Kedua, fokus para dosen dan seluruh sivitas akademika yang masih terpecah, hal ini berkaitan dengan tingkat kesejahteraan mereka. Sebagaimana diketahui, tidak sedikit dosen PTKIS yang memiliki pekerjaan sampingan yang tidak jarang berbanding seratus delapan puluh derajat dengan atributnya sebagai seorang dosen. Penyebabnya, apalagi kalau bukan gaji menjadi dosen honorer yang horor. Hal ini memaksa para dosen untuk bekerjka di luar kampus agar kendaraan dapat terisi bahan bakar. Imbasnya, kualitas sang dosen kemudian tereduksi.

Ketiga, minimnya kolaborasi antar PTKIS, paradigma yang seharusnya sudah muncul di era 4.0 ini, masih menjadi persoalan lain. Hal demikian turut menyulitkan berkembangnya PTKIS. Kehadiran pandemi Covid-19 yang melanda tanah air, memaksa PTKIS mengikuti peraturan pemerintah untuk menghindari kerumunan dengan menghadirkan tradisi baru bernama daring atau dalam jaringan. Sebuah pembelajaran yang dilaksanakan secara online. Sebagian PTKIS dapat melaksanakan, tidak sedikit pula yang terseok-seok hingga terpaksa kembali ke motode luring atau luar jaringan, pembelajaran secara tatap muka.

Sebagai pengajar  di sebuah PTKIS yang tidak terlalu besar memang sangat banyak tantangan. Dengan sarana dan prasarana yang belum memadai, kami tetap senantiasa berpikir bagaimana cara mempertahankan proses perkuliahan dan tridarma perguruan tinggi dapat terlaksana secara maksimal. Supaya tidak terkikis  dalam situasi seperti ini ditambah lagi masa pandemi yang tak kunjung henti.

Pandemi, kehadiran new normal, pembiasaan kuliah online, dan atribut lain yang mengemuka dewasa ini di lingkup akademisi, seharusnya menjadi momentum tepat bagi para sivitas akademika untuk merevolusi diri. Sehingga, situasi dan kondisi apapun yang melanda, kita sebagai tenaga pengajar yang peduli dengan institusi kita bernaung, dapat siap melaksanakan tridarma perguruan tinggi secara paripurna.

#ayunulis

Pos terkait