Hal yang Harus Dilakukan Saat Pecah Ban di Jalan Tol

  • Whatsapp
Hal yang Harus Dilakukan Saat Pecah Ban di Jalan Tol

Oleh: Mutiullah Hamid, Dosen dan Pengusaha, Tinggal di Yogyakarta

Ini pengalaman saya saat pecah ban di tol Solo – Ngawi. Rabu 15 september lalu, saya dan keluarga mudik ke Sumenep Madura. Agenda menjenguk orang tua di Sumenep sudah lama masuk jadwal namun selalu tertunda karena PPKM yang terus diperpanjang.

Salah satu “ritual” sebelum mudik adalah cek seluruh kondisi mobil di bengkel agar perjalanan aman dan nyaman. Biasanya, saya fokus ke kaki kaki mobil yang memiliki tugas berat selama perjalanan.

Saya cek pengereman, tirerod dan ban. Alhamdulillah kondisi rem dan kaki kaki mobil aman dan sehat, hanya dua ban belakang yang harus diganti. Saya ganti dua ban belakang di toko ban mobil di kawasan Janti. Saat proses penggantian ban, pihak toko ban menyarankan untuk ban baru diletakkan di depan dan ban depan atau ban lama letakkan di belakang (dilukir). Saya manut saja apa kata toko ban. Jadinya, ban depan benar-benar baru.

Saya merasa bahagia dan tenang karena ban depan diganti baru dan semua kondisi mobil sudah dicek, saya dan keluarga berangkat hari rabu pagi tanggal 15, saya berangkat Magelang – Madura via Selo Boyolali karena mampu memangkas waktu 1,5 jam daripada Magelang – Madura via Jogja yang memakang waktu 3 jam.

Dengan ditemani lagu dangdut Bang Haji Rhoma Irama, mobil saya masuk pintu tol Colomadu Kartasura jam 07.00, saya melaju kecepatan 100 – 120 km perjam, semua berjalan normal dan lancar. Namun, perjalanan tol kira-kira baru 30 menit, terdengar suara ledakan dan setir mobil oleng ke kiri, saya berbisik dalam hati “ban mobil depan pecah”, istriku yang duduk di sampingku juga berbisik lirih “ada problem di ban depan”.

Baca Juga :   Opini: Apa Salah UI?

Dalam kondisi pecah ban, saya mencoba tidak panik dan tetap tenang, saya lepas injakan gas, saya biarkan mobil melaju tanpa gas sampai berkurang laju sedikit demi sedikit. Saat laju mobil berkurang, saya perlahan injak rem dengan lembut agar tidak oleng, saya nyalakan lampu hazard, saya stabilkan kemudi, sampai akhirnya mobil benar-benar berhenti di pinggir tol.

Saya matikan mesin dan saya keluar mobil, saya berteriak keras “astagfirullah, ban depan sebelah kiri sobek separoh”, saya berusaha tetap tenang, saya keluakan alat dongkrak dan ban serep, saya berusaha mengatasi masalah ini sendiri. Dalam upaya mendongkrak ban depan, saya terus bertanya dlm hati “kok bisa ban baru bisa pecah?”

Saat saya kesulitan mendongkrak mobil, tiba-tiba dua petugas tol datang, satu satpam dan satu polisi. Kedua petugas ini bertanya kepada saya “ada apa pak?” Saya jawab “ban depan pecah”, pak polisi sambil tersenyum menjawab “oke pak, tunggu sebentar, teknisi akan segera datang untuk membantu bapak”, dengan senyum agak sedikit pahit saya jawab “oke pak terima kasih”.

Sambil menunggu teknisi datang, saya ngobrol ngalor ngidul dengan pak polisi, di saat asayaik ngobrol, saya bertanya terus terang ke polisi “pak polisi, berapa biaya administrasi bantuan teknis ini”, pak polisi menjawab dengan ramah “semua free, ini bagian fasilitas pelayanan dari Jasa Marga”, dengan spontan saya jawab “alhamdulillah”. Beberapa menit kemudian, team teknisi datang, pak polisi dan pak satpam pamit untuk melanjuntukan patroli.

Baca Juga :   Opini: Belajar Mencintai Indonesia

Team teknisi langsung mengecek ban depan dan menyiapkan ban serep untuk dipasang. Ternyata, ban serep dlm kondisi gembos dan tidak layak untuk dipakai, team teknisi menyarankan untuk ganti ban dan menambah angin ban serep. Saya bertanya “bagaimana dan di mana saya bisa beli ban di tol”, team teknisi menjawab “kami bantu untuk membelikan ban di toko ban di luar tol”, saya jawab “alhamdulillah, terima kasih pak”.

Setelah beli ban baru dan ban dipasang oleh team teknisi, saya melanjuntukan perjalanan. Saya melaju dengan kecepatan 100 – 120 km. Lagu Rhoma Irama menemani laju mobilku dengan syahdu.

Saya menyusuri tol Sragen – Surabaya dengan hati tenang karena ban depan baru lagi. Sesampainya di rest area tol di kawasan Jombang, saya berhenti sejenak untuk minum kopi. Saat menyeruput dua teguk kopi, tiba2 ada bapak2 memberi tahu “pak ban mobil depan gembos”, saya sigap untuk mengecek, saya sontak teriak lagi “astaghfirullah, ban baru bocor”, di rest area tidak tukang tambal ban.

Dalam kondisi gontai, ada sopir truk yang mau bantu untuk menggantikan ban bocor dengan ban serep. Setelah diganti ban serep, sopir truk menyarankan untuk cek di bengkel karena khawatir ada problem di cakram rem yang menyebabkan ban bocor.

Saya segera bawa mobil ke luar tol di kawasan Jombang. Dua kaki kaki dan dua ban dicek, ternyata tidak ada apa. Setelah memastikan semua aman, saya melanjuntukan perjalanan ke Madura.

Intinya, saat pecah ban di tol, “jangan panik, tetap tenang, lepas gas, nyalakan lampu hazard dan injak rem perlahan dan lembut” insayaallah aman.

Pos terkait